Desain sambungan bahan rekayasa sistem anti rembesan harus memenuhi persyaratan berikut:
Aturlah posisi setiap potongan bahan secara rasional dan minimalkan jahitan.
Pilih arah peletakan yang tepat untuk mengurangi tekanan pada sambungan.
Jahitan harus menghindari sudut-sudut.
Tidak boleh ada sambungan horizontal pada lereng dengan kemiringan lebih dari 10% dan dalam jarak 1,5 meter dari ujung lereng ke arah dasar lapangan.
Parit jangkar harus dibuat untuk menghubungkan material dengan lingkungan alam di sekitarnya.
Tabel referensi metode tumpang tindih dan lebar tumpang tindih berbagai bahan rekayasa sistem anti rembesan
| Bahan | Metode Penyambungan | Lebar Penyambungan (mm) |
|---|---|---|
| Geotekstil Anyaman | Koneksi Jahit | 75±15 |
| Geotekstil non-anyaman | Koneksi Jahit | 75±15 |
| Ikatan Termal | 200±25 | |
| Geomembran HDPE | Pengelasan Leleh Panas | 100±20 |
| Pengelasan Ekstrusi | 75±20 | |
| GCL | Ikatan Alami | 250±50 |
| Jaring Drainase Geokomposit | Geonet membutuhkan pengikatan; Geotekstil bawah membutuhkan paku; Geotekstil atas membutuhkan penjahitan | 75±15 |
Pengaturan parit jangkar di TPA harus memenuhi persyaratan berikut ini: - Pengaturan parit jangkar harus memenuhi persyaratan berikut ini
Sesuai dengan kondisi medan yang sebenarnya.
Tinggi dan panjang lereng yang mengelilingi TPA tidak boleh melebihi batas yang tertera pada tabel.
| Rasio Kemiringan | 1:≥1.2 | 1:1.2 – 1:3 | 1:1.3 – 1:4 | 1:1.4 – 1:5 | 1:<1.5 |
|---|---|---|---|---|---|
| Batas Ketinggian (m) | 10 | 15 | 18 | 21 | <12 |
| Panjang Batas (m) | 22.5 | 40 | 50 | 55 | 60 |
Desain parit jangkar harus memenuhi persyaratan berikut:
Jarak antara parit jangkar dan tepi lereng tidak boleh kurang dari 800mm.
Bahan rekayasa sistem anti rembesan tidak boleh memiliki struktur kaku bersudut siku-siku pada titik belok; semuanya harus dibuat menjadi struktur melengkung.
Penampang melintang parit jangkar harus dihitung berdasarkan metode penahan dan kondisi aktual. Ukurannya tidak boleh kurang dari 800mm x 800mm.